Membangun bisnis yang kompetitif

Dalam dunia yang berubah secara cepat sekarang ini banyak kita menyaksikan perusahaan yang dengan cepat menjadi besar dan mendominasi kategori business mereka. Padahal sebelumnya kita melihat perusahaan yang besar dalam list Fortune 500, misalnya, banyak yang sudah ratusan tahun baru bisa menjadi sangat kuat dan besar.

Bandingkan dengan misalnya Facebook, Amazon, Alibaba, Microsoft, Apple, dan lainnya yang hanya beberapa puluh tahun sudah menjadi raksasa tersendiri. Di lain pihak kita juga melihat banyak perusahaan dan Brand yang dulunya mendominasi dunia juga tumbang seperti, Kodak dan Fuji, Nokia dan Blackberry, Friendster dan Myspace.

Ada juga yang masih mencoba bertahan dengan segala cara, baik dengan mencari jati diri baru, diversifikasi, menjual sebagian lini business nya dan berubah secara total fokusnya.

Kenapa perusahan besar yang punya sumberdaya dan dulunya mungkin terkenal inovatif sekarang malah hancur? namun yang lain malah bisa dengan cepat menjadi raksasa? Tentunya banyak faktor yang menyebabkannya. Biasanya faktor-faktor ini akan saling berkaitan satu dengan yang lainnya, yang kalau kita tidak melihat secara komprehensif maka kita akan sulit menemukan jawabannya.

Selama lebih dari 25 tahun saya menjalani hidup sebagai seorang pekerja profesional mulai dari bawah sampai titik paling tinggi menjadi CEO sebuah perusahaan multinasional dan besar, saya mendapatkan banyak sekali pelajaran yang mungkin tidak saya dapatkan pada waktu sekolah dulunya. Dalam mencoba untuk menuangkan pemikiran dan cara yang lebih mudah untuk melihat kesehatan sebuah usaha maka saya bersama-sama teman2 dari Gerakan Wirausaha Onein20Movement (OIM) proindonesia mencoba memberikan sebuah model yang mungkin akan lebih mudah di pakai.

Model ini kami namakan Smart Business Map (SBM) yang di bagi menjadi 3 kelompok, yaitu Playing Field, Market Landscape dan Operational Profitability.

Kenapa alat atau “tools” ini yang saya selalu pakai dalam membenahi sebuah business atau melihat kesehatan sebuah usaha? Karena saya punya keyakinan bahwa maju dan mundurnya sebuah usaha tidak di pengaruhi oleh satu faktor saja. Tanpa melihat semua faktor ini maka ibarat seorang “dokter” mencoba memberikan obat kepada pasiennya tanpa data dan analisa yang lebih dalam yang bisa berakibat pasiennya tidak sembuh.

Dalam pengalaman kami selama ini, baik bekerja di perusahaan besar maupun membantu para wirausaha yang masih kelas UMKM, maka business yang masih “baru” biasanya persoalan yang paling sering di dapatkan adalah masalah yang ada di faktor “Playing Field”. Untuk usaha yang sudah mulai jalan dan mulai akselerasi dan berkembang biasanya persoalan yang sering kami temui adalah di Faktor “Market Landscape”. Sedang perusahan besar dan sudah lama, banyak sekali persoalannya di bagian Operational Profitability.

Lalu bagaimana caranya melihat kesehatan business kita dengan Smart Business Map (SBM) ini? Biasanya yang kami lakukan adalah membuat sebuah potret (Snapshot) dari usaha tersebut dengan menjawab 12 pertanyaan dasar yang ada dalam SBM.

PLAYING FIELD

1. What is the problem your business is trying to solve? disini kita mencoba mencari inti dari business tersebut dan melihat sebetulnya apakah mereka memberikan solusi terhadap persoalan konsumen mereka? Karena pada dasarnya “Needs” dari konsumen hanya akan tercipta (ada) kalau ada persoalan yang ingin mereka selesaikan. Contoh sederhana adalah persoalan “lapar” yang ada di konsumen maka akan timbul business “makanan”

2. Who has the problem? Ini berkaitan dengan pertanyaan no 1. Karena kita harus jelas tahu siapa sebenarnya yang punya problem tersebut. Kalau dalam bahasa teorinya mungkin disini kita mencoba melihat “Target Market” atau “market segment” yang ingin kita berikan solusi dengan business kita. Kalau dengan contoh persoalan “lapar” di atas tanpa kita dengan jelas tahu siapa yang lapar tersebut, kemungkinan besar kita mencoba memberikan solusi makan untuk semua orang. Namun kalau kita fokus ke target market anak-anak, misalnya, maka mungkin solusi yang kita berikan adalah makanan yang khusus di design untuk anak-anak.

3. What is the solution? Banyak para pengusaha yang mulai business nya dengan membuat produk atau jasa, kemudian baru mencari pasarnya. Dalam kaitannya ini, kita melihat dulu problem dan keperluan dari target market kita, baru di coba memberikan solusinya.

4. How Big is the Market? Kalau pertanyaan 1-3 sudah bisa dilihat maka saya biasanya akan melihat seberapa besar pasar dari business tersebut, dengan solusi yang di berikan untuk target market yang sudah di identifikasi. Buat apa business yang potensi marketnya kecil dan tidak punya kemungkinan untuk berkembang di masa yanaga kan datang?

5. What Factors will impact the business? pertanyaan no 5 ini yang termasuk paling sering di abaikan oleh pengusaha, apa lagi usaha yang masih kecil. Padahal ada banyak faktor yang mungkin sulit anda kontrol (external factor) yang sangat mempengaruhi business anda. Apa saja yang penting kita pantau dan kelola? Ada faktor Pemerintah dengan kebijakan dan regulasi, faktor kompetitor/pesaing , faktor Tokoh masyarakat/LSM, Supplier , Teknologi yang berubah dan perubahan perilaku konsumen.

Faktor-faktor ini harus kita jaga dan pantau karena semuanya ini bisa memberikan dampak yang negatif dan juga bisa menjadi positif terhadap business kita.

MARKET LANDSCAPE

6. Why do people choose you? ini adalah pertanyaan yang mencoba melihat apa yang menjadi alasan konsumen untuk memelih produk atau jasa anda? Apa bedanya dengan yang lain? Nilai apa yang di berikan ke konsumen sehingga mereka menjadi tertarik? Penetapan harga anda bagaimana?

7. How do you sell your products? Konsumen sekarang, dengan banyak pilihan produk dan jasa, secara umum akan lebih memilih produk yang memang memberikan solusi untuk mereka dan mudah untuk mendapatkannya. Bagaimana caranya selama ini kita memasarkan produk kita. Sistem distribusi kita bagaimana? Apakah offline saja atau ada juga online distribution? Apakah kita memakai mediator atau melakukan direct selling? Business model anda juga menentukan sukses atau tidaknya usaha anda.

8. How do you keep your customer?  business yang mempunyai customer yang loyal biasanya akan lebih lama bertahan dan maju. Konsumen yang sudah mencoba produk anda dan tanpa adanya cara untuk tetap melakukan “engagement” dengan mereka maka bisa jadi mereka akan berpindah ke hati yang lain. Karena kompetitor tidak akan diam saja.

OPERATIONAL PROFITABILITY

9. How do you increase your revenue? Business tanpa cash flow akan mati. Cash flow yang baik hanya di dapat kalau ada penghasilan/revenue. Jadi melihat dari mana saja Revenue sebuah usaha akan sangat penting. Apakah revenue mereka tergantung kepada satau atau dua produk saja? Apakah ada income lain yang bisa memberikan tambahan? Bagaimana selama ini pertumbahan pendapatan mereka? Apakah dari penambahan konsumen saja atau ada juga dari penambahan pembelian dari setiap konsumen yang sudah ada? Banyak faktor lainnya yang harus kita lihat.

10. How do you manage your cost? Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini maka perhatian kita terhadap pengelolaan biaya sangat penting. Karena secara sederhana keuntungan hanya dapat kalau Pendapatan lebih besar dari biaya? Kalau kita tidak bisa naikan pendapatan, logikanya kontrol biaya? Cek satu persatu item biaya yang paling besar…biasanya ada di biaya HPP dan Overhead cost. Kalau anda investasi terlalu agresif maka resiko dalam cash flow dan sekaligus kenaikan biaya.

11. What is your Core Resources? Setiap business pasti mempunyai “Core resources” yang harus di kelola dengan baik. Karena “Core resources” ini kalau tidak ada, maka perusahaan akan mati. Perusahaan konsultan dan jasa biasanya “core resources” mereka adalah SDM mereka. Perusahan Kopi Kapal Api “core resources” mereka adalah Kopi.

12. How do you develop your team? Saya adalah orang yang paling ngotot mencoba melihat masalah SDM dan team manajemen sebuah business. Karena ujung-ujungnya, saya selalu mengatakan “we are in people business”. Tanpa SDM yang berkwalitas baik, punya budaya yang baik niscaya sebuah usaha akan mengalami kesulitan. Dana bisa di cari, teknologi dan mesin bisa di beli. Namun mengembangkan SDM akan membutuhkan waktu.

Melihat 3 Faktor utama Playing Field, Market Landscape, Operational Profitability dengan 12 pertanyaan dasar, maka biasanya kita akan mendapatkan semacam Snapshot (Foto) dari kesehatan sebuah usaha. Dari sini kalau kita ingin melihat lebih dalam dengan data dan fakta yang ada akan lebih baik. Minimal dengan ini kita sudah mendapatkan titik fokus persoalan maupun area yang perlu di perbaiki.

source : https://www.budiisman.com/blog/membedah-persoalan-sebuah-business-lebih-baik-secara-holistik

The post Membangun bisnis yang kompetitif appeared first on Gaivo Systemworks.


Source: gaivo-systemworks.com

Validasi ide startup sebelum membuat sebuah produk

Coming up with startup ideas can be hard, but validating them is even harder, and more important to your startup than you might realize. Because regardless of how world-changing your idea is, if you build a product before validating the idea it’s based on, there’s a good chance your product will fail.

The Founder Institute can help you validate your startup idea. Click here to apply to a program near you!

Luckily, this guide will show you how to make sure you have a strong business idea – well before you spend time and money building your minimum viable product.

Ensure Your Startup Idea Does Only One Thing – and Does It Well

Some of the biggest companies in the world – like Google, Apple, and Amazon – provide a multitude of products and services. Unfortunately, what too many founders don’t take into account is that none of these companies started out big; each of these companies started off with one simple, clear mission and stuck to it, building considerable traction before expanding into other ventures.

The lesson here is that if you have an idea for a startup offering, don’t get caught up in the excitement of launching the numerous versions, features, and other areas you want to expand to. Make sure that your startup idea does only one thing at the beginning, as this will make it easier to present to potential customers and investors. However, not only should your idea do only one thing, but it must do it well, as that is the only way that you can differentiate yourself from your competitors.

Questions to Ask

  1. What is the most important function/purpose of my product?

  2. Does my product have too many functions?

  3. What are the features my product can do without?

  4. How well does my product solve a problem? If the answer is “not very well”, how can I improve its use?

Be Clear on the Product You Want to Build

Countless beginning founders get carried away by the prospect of launching a successful company and living the startup life that they forget that they are supposed to focus on building a product. What budding entrepreneurs need to understand is that without a product, they have no customers, and without customers, they have no employees or fancy office, which means the chances of you living the cushy life of tech founder are slim to none.

If you begin with the phrase of “I’m in the business of…” when describing your product, your product will fail because you are too focused on the “how” of your startup rather than the “what”. Think about what it is specifically that you are building: is it software? Hardware? An online service or a mobile app? Focus on what you are making, who will use it, and why they want it. By narrowing on these aspects of your product, you reduce your risk of building something without value.

Questions to Ask

  1. What is my product? Software? Hardware? Mobile app? B2B or B2C?

  2. Who are the people who will use my product?

  3. How often will people use my product?

  4. How can I explain what my product is, what it does, and who it’s for in one sentence?

Your Startup Idea Must Address Large Markets

Yes, your startup must solve a problem, ideally only one problem at the beginning, and it must also solve that problem well. However, if the problem you’re solving only affects a very small percentage of the world’s population, don’t count on attracting enough customers in that market to become a successful company.

If you have an idea for product or service, conduct enough research to ensure that your market has at least ten million potential customers and worth at least $10 billion. Any market that has numbers smaller than these is not worth starting up in. Or, if you do have an idea in a small market, look for a way to for the idea to be relevant in a larger market. Addressing a smaller market is fine as a launch strategy, but you must make sure that you leave yourself the possibility to expand in the future.

Questions to Ask

  1. How big is your target market? Be specific (e.g. number of potential customers, number of people who experience this problem, etc.).

  2. How much is your market worth? Be specific (e.g. how much money is spent per year on products in your market, how much money your customers will save by using your product, etc.).

  3. If the initial market you’re working in is small, what is the bigger market you plan on expanding to?

  4. How can you apply your idea to a larger audience?

Consider Funding for Your Startup Idea

Your startup idea can only last so long on bootstrapped funds, and is going to require outside capital at some point. However, the global funding environment has changed, which means that most ideas will only be able to raise an angel round for $500K or less after have a strong prototype and a full-time team member. The days of a multimillion dollar Series A round are pretty much over, and certain types of businesses, like hardware, are increasingly difficult to fund.

Because of the growing challenges that face entrepreneurs who are looking for funding for their startup ideas, it’s important that you focus on something that is relatively easy and inexpensive to build, code, and scale, at least at the beginning of your company. This may sound like a daunting task for founders who believe that the only way they can change the world is through considerable funding, keep in mind that if your idea is simple and focuses on only one task, enticing investors shouldn’t be too hard.

Questions to Ask

  1. How much am I willing to spend of my own money to bring my idea to life?

  2. How much will it cost to build an MVP (Minimum Viable Product) of my idea?

  3. What are the manufacturing costs of my hardware idea? How much will it cost to develop my app or software idea? How many team members will I need for my service idea?

  4. If my idea costs more than I raise to build, how can I simplify my idea to make it more fundable?

Determine Your Idea’s Steps to Revenue

There’s no doubt that your product needs to generate revenue. But even if your idea for an offering has a great potential to become profitable and passes the tests of the previous sections, having the wrong revenue model can greatly reduce your chance of becoming a lucrative business. If your idea requires too many steps in order for your customer to pay you money, you will lose a lot of customers.

When determining a revenue stream for your product, simple is always better, and the simplest revenue models require only a few “steps to revenue” (i.e. steps that need to take place before your target customer pays you money).

To determine your steps to revenue, you need to analyze in detail all of the key steps that need to occur before you receive a payment in your bank account from your target customers.

Follow these tips:

1. Be extremely detail oriented, and focus on very specific customer behavior when using your product.

2. For each step, write the name of the step, the approximate timing, and a couple of sentences that describe what needs to happen for that step to be completed.
3. Aim for the fewest number of steps and key assumptions. For example:

“Encourage users to search for products on my website.”
“Sell users’ clicks to merchants on a CPC.”

4. Avoid a “branching” model, in which your user path has multiple options, as this will increase the likelihood of your customers losing interest before paying you.

Final Thoughts

After you’ve gone through these steps with your business idea, you might realize that your original concept doesn’t hold up as well as you thought. In fact, you might even have to go through this process numerous times before settling on a strong idea for a tech offering. However, this is all part of being an entrepreneur, and ensures that only the most dedicated will persevere. If you think that the idea validation stage is daunting, consider these words from Thomas Edison:

I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work.

Source: https://fi.co/posts/validating-your-startup-idea-before-building-your-product

The post Validasi ide startup sebelum membuat sebuah produk appeared first on Gaivo Systemworks.


Source: gaivo-systemworks.com